Darkness in December | Alwinata Blog
Semua nama adalah karangan
semata, mohon maaf jika ada kesamaan nama.
Pada suatu hari, tanggal 19
Desember temanku mengalami sebuah musibah. Ia tertabrak sebuah mobil. Tapi
untunglah, hanya kakinya saja yang harus diamputasi. Namun, si supir mobil tewas
karena terbentur setir dengan sangat keras. Kami merasa bersalah saat itu.
Namun bagaimana lagi, itu semua sudah terjadi.
O iya, Namaku Mali, aku masih
bersekolah kelas 2 SMA. Sedangkan temanku bernama Yogi. Kami berada sendirian
di Jakarta, karena kami berprestasi dan mengharuskan kami untuk menyewa rumah/
kost disana. Ngomong-ngomong, setelah kejadian itu, setiap malam kami merasa
ketakutan. Terbayang-bayang oleh sosok supir itu.
Pada malam libur, kami bersenang
senang bersama teman-teman dirumahku agar kami merasa tidak takut. Sampai kami
berlarut malam menyaksikan kembang api dan makan jagung bakar dengan lahap.
Lalu datanglah seorang satpam yang sudah tua sekali dan wajahnya agak mirip
dengan wajah supir itu. Yogi ketakutan pada awalnya. Namun aku berusaha
menenangkannya.
“Nak, hati-hati sekarang banyak
terjadi kasus pencurian.” Kata satpam dengan terbata bata.
“Ya terus kenapa kek, orang kita
juga berani kok!?” sahut temanku, Manfur.
“Hati-hatilah saja hahahah” Kata
satpam sambil tertawa.
Spontan, kami semua agak
ketakutan mendengarnya. “Namun, kenapa pikirkan, kita kan harus merayakan tahun
baru!?”ujarku dalam hati.
Keesokan harinya, kita semua
tertidur pulas sekali. Ada juga yang sedang bermain PS ku. Tiba tiba terdengar
suara jeritan “Aaaaaaahhhhh!!! Apa ini!?”. Spontan kita semua menuju kesana.
Terlihat Manfur tergeletak penuh darah dengan luka sayatan di nadi tangannya.
Tentu kami berkesimpulan bahwa Manfur mati karena pendarahan pada kedua nadi
tangannya. Namun, Joni memperingatkanku.
“Hai Mali, mungkin kata satpam
itu benar. Karena kemarin Cuma Manfur yang menantang kakek tua itu.” Kata Joni
ketakutan.
“Sudahlah itu hanya seorang
kakek.”kataku menenangkan.
Akhirnya dengan masih mengantuk,
kita berlima pergi ke toko bangunan membeli sebuah bor dan sebuah palu.
Untuk jaga jaga pikirku. Aku juga pergi ke minimarket untuk membeli 3 bilah
pisau tajam untuk menghadapi pembunuh Manfur.
Aku masih ingat, itu tanggal 23
Desember yang tak bisa kulupakan.Kami semua menutup jendela rapat-rapat. Dan
berjaga membawa senjata tajam itu. Terdengar suara orang memecahkan pintu depan
kita. Kita langsung siaga dengan senjata itu. Tiba-tiba, saat pintu itu hancur,
terlihat sesosok berbadan tinggi besar yang berwajah mirip seperti supir itu. Yogi
ketakuan minta ampun.
“Mal itu bukannya orang yang kita
tabrak itu?!?”
“Ya wajahnya memang mirip. Tapi
aku masih belum pasti. Ayo kawan –kawan kita serang orang itu!!!!” kataku
dengan kencang.
Pertama, Ghiki menyerang dengan
sebuah pisau, namun ia dikalahkan dengan mudah. Dan menyedihkannya ia ddibunuh
di depan kita. Yogi langsung menangis dengan kencang. Tak kupedulikan Yogi,
akupun melemparkan sebuah pisau tepat ke wajahnya. Namun tenyata ia menepisnya
dengan begitu mudah. Aku tidak habis pikir, kenapa ia tidak langsung membunuh
kita, tetapi harus dengan teman kita dahulu.
Joni langsung maju dengan
menggunakan palunya, terjadi pertarungan yang cukup sengit. Lalu temanku, Coki
maju dengan bor miliknya. Pembunuh itu hamper dikalahkan oleh kedua temanku
itu. Aku hanya bisa diam dan menenangkan Yogi. Namun, sepertinya pepatah
“senjata makan tuan” itu benar. Mereka termakan senjatanya sendiri. Joni
tergeletak dengan kepala hancur lebur terkena palu. Sedangkan Coki masih kejang
kejang dengan luka bor menembus kedua kakinya.
Aku hanya bisa pasrah menghadapi
itu. Dengan hanya berbekal pisau Yogi, aku berusaha menghalau sosok itu. Tiba
tiba dari pintu terdengan suara tembakan sebanyak 2 kali “dor!.. dor!..”.
Seorang polisi menembak sosok itu tepat di bahunya. Namun sosok supir itu
sangat kekar ia menghadap ke belakang dan berusaha melempar kapaknya. Mungkin
ini celah baik untukku. Dengan sigap, aku langsung meloncat dan menancapkan
pisau itu tepat di belakang leher sosok berjubah itu. Sosok itupun tergeletak
bersimpah darah dan kami pun dibawa ke kantor polisi sebagai saksi.
Di kantor polisi, kami berbicara
selebar-lebarnya. Dari polisi, kita tahu bahwa sebenarnya sosok berjubah itu
adalah saudara kembar dari sopir yang tewas itu. Ia depresi dan akhirnya dendam
untuk membunuh kita. Akhirnya kita dipindahkan ke Surabaya karena kami trauma
dengan hal itu. Namun, sampai sekarang aku masih bingung, siapa kakek tua itu??
Bagaimana ia bisa tahu hal ini?? Ahhhh jangan pikirkan, nanti kejadian lagi
dehh…
nb. Images Copyright Due to the OWNER

lanjut gan
BalasHapusasikkkk gann digoyang biar lebih asikk
BalasHapusasikkk kawan......
BalasHapushaha. trims yaa udah mampir ke sini :)
HapusLanjut gan kalo post lagi cerita horror lagi tolong tag fb ku gan Richul
BalasHapus