Cerpen : Surabaya, Aku Takkan Meninggalkanmu | Alwinata Blog
Di suatu pagi
yang cerah, Migi dan kawan setianya, Coki berangkat ke sekolah bersama-sama.
Mereka bersekolah di SMPN Gunawan, Surabaya. Migi memang terkenal sebagai
seorang anak yang pintar dan rumahan, sedangkan Coki terkenal sebagai anak yang
jujur dan gaul. Mereka sudah bersahabat semenjak mereka masih TK. Persahabatan
mereka tidak bisa dipisahkan. Namun pada suatu hari, persahabatan mereka harus
diuji.
Hari itu Tanggal 5
April 2016, dan kebetulan itu adalah hari Selasa. Mereka berdua mengikuti eksul
yang sama, yaitu basket. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman : ”Untuk Migi
kelas 8 M, diharap menuju ruang guru”. Dengan penasaran, mereka menuju ruang kepala
sekolah.
“Ada apa pak??” Tanya Migi
“Begini, sebenarnya kita tahu kamu itu berprestasi dan Migi akan…”
“Akan diikutkan olimpiade kan pak??” sahut Coki menyela
“Bukan, Migi akan dipindahkan ke sekolah di Jakarta, agar Migi
dapat memaksimalkan prestasinya disana. Awalnya bapak juga kaget diberitahu
bapak Kepala Dinas. Namun ya apadaya, dengan berat ya harus dilakukan”
“Nanti bapak akan beri kamu waktu sampai akhir kelas 8 ini. Nanti
kelas 9 kamu akan dipindahkan ke SMP di Jakarta” Kata Pak Goni, Kepala Sekolah
SMPN Gunawan.
Akhirnya Migi dan Coki pulang dalam
keadaan sedih. Mereka tidak menyangka Migi akan dipindahkan ke Jakarta.
Akhirnya mereka berdua duduk di sebuah taman.
“Migi, bagaimana nanti kalau kamu jadi dipindahkan ke Jakarta?”
“Ya.., bagaimana lagi?”
“Nanti disana kita sering kirim surat ya!!”
“Ya dehh”
Di pikiran Coki
terbayang rencana akan membawa Migi berkeliling Surabaya, mengingat Migi adalah
anak rumahan.
“Migi, gimana nanti kalau kita jalan-jalan ke Surabaya, kamu kan
nggak pernah keluar?”
“Wah ide bagus tuhh. Besok kan libur, gimana nanti kalau kita
kesana?”
“Oke boss siap”
Pagi harinya,
mereka langsung bangun dan bersiap diri untuk jalan-jalan. Destinasi pertama
mereka adalah Tugu Pahlawan. Setibanya disana, mereka melihat pemandangan yang
indah sekali. Banyak bunga-bunga, rumput yang hijau, dan tugu yang indah.
Disana mereka dengan riang bermain di halaman rumput yang luas. Tak lupa juga
mereka berfoto-foto dengan kamera Migi. Migi terlihat bahagia sekali.
Saat masuk ke
Museum 10 November, mereka sangat kagum, melihat banyaknya dokumen ataupun barang
bersejarah di Surabaya. Terdapat diorama perebutan Surabaya oleh Arek Suroboyo.
“Wah Migi apa kau tidak pernah ke sini??”
“Belum Coki, aku hanya lihat di video-video di tivi” Kata Migi
sembari tertawa.
“Wah ayo puas-puaskan dulu, nanti kita pergi ke tempat
selanjutnya!”
“Ayo”
Setelah mereka
puas mengelilingi Tugu Pahlawan, mereka bergegas pergi ke Monumen Kapal Selam.
Mereka melihat banyak sekali penunjung yang datang kesana, baik domestik
ataupun mancanegara. Mereka sangat kagum bahwa pada saat penjajahan pun
Indonesia sudah memiliki kapal selam yang canggih di masanya, apalagi sekarang
kapal selam itu diabadikan di Surabaya.
“Bagus banget ya Coki, aku belum pernah melihat yang sebesar ini!”
“Ya sih, kamu kan anak rumahan”
“Oya Coki, dengan ini kita harus belajar bahwa perjuangan Bangsa
Indonesia itu mati-matian, jadi kita jangan pernah menyia-nyiakan kemerdekaan
kita!”
“Hehehe iya, tumben kamu pinter, Gi”kata Coki sambil tertawa.
Sehabis dari
Monumen Kapal Selam, mereka beranjak ke rumah makan di pinggir jalan. Mereka
berbincang-bincang sambil menunggu buka puasa sambil melihat atraksi kuda
lumping di halaman restoran. Mereka sangat senang, namun tiba-tiba Coki sangat
sedih karena teringat akan kehilangan Migi, mengingat Lusa Migi harus pergi, dan
besok Migi harus mempersiapkan data-data pribadi di sekolah. Tapi Migi berusaha
menenangkan Coki sambil berkata
“Sudahlah, bagiku ini sudah luar biasa. Aku belum pernah melihat
hal-hal di kotaku yang begitu indah. Meskipun aku nanti dipindahkan, tapi kita
akan tetap disatukan dalam satu ikatan, yaitu Ikatan Arek Suroboyo. Terima
kasih ya Coki”
Esoknya tiba
saatnya persahabatan mereka terputus. Mereka terlalu berat untuk berpisah satu
sama lain.
“Migi, jangan pergi…”
“Sudah, ini kan demi kebaikan. Ya jalani aja. Jangan nangis dong
Ki”Ucap Migi sambil menghapus air mata Coki
Melihat itu, Pak
Goni merasa terharu, karena banyaknya tali persahabatan yang harus putus. Tidak
hanya Coki, seluruh anak di sekolah ini sangat kehilangan dia, karena dia anak
yang pandai, suka menolong, dan banyak berteman. Tapi orang yang paling berat
kehilangan Migi adalah Coki, karena mereka sudah bersahabat sejak masih kecil.
Migi telah pergi,
kini di hati Coki hanyalah kosong melompong, tiada teman yang mengisinya.
Setiap hari ia terus saja memandangi dinding rumahnya untuk melihat kirimat
surat dari Migi. Ia senang kalu mendapat surat Migi.
Hari demi hari,
surat demi surat, akhirnya mereka bertemu kembali saat liburan. Mereka gembira
sekali. Mereka saling bersahutan
“Kenapa kau sudah lama tidak membalas suratku??”
“Ya aku ingin beri kau kejutan dengan kedatanganku di sini. Oya
beberapa bulan lagi aku dipindahkan ke Surabaya loh”
“Oyaa?? Bagaimana rasanya tinggal di Jakarta?’
“Ya seperti itu deh…” kata Migi sambil tertawa.
“Masih kangen dengan Surabaya. Hhhmm Surabaya, aku takkan
meninggalkanmu. Ayo kita jalan jalan!”
“Ayo” kata Coki dengan semangat.
2 Bulan setelah
mereka bertemu, Coki dikirimi surat. Coki sangat senang akan hal itu. Namun
saat dibuka, hatinya langsung sedih sekali.
“Hai Coki, gimana
kabarmu disana?? Sepertinya kamu senang sekali ya dapat surat ini. Sebenarnya
lusa aku akan dipindahkan lagi ke Surabaya. Hatiku senang sekali melihatnya.
Aku ingat saat kita jalan-jalan di Surabaya, makan bareng, itu yang takkan kulupakan.
Maaf aku sudah lama tidak kirim surat, aku dilanda penyakit Leukimia. Itu
mengharuskanku vakum dulu selama beberapa bulan ini. Namun aku tulis surat ini spesial
untuk kamu Coki. Mungkin jikka kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tiada
karena Leukimia. Tapi, jangan bersedih, semangat belajar ya Coki. Aku sangat
rindu Surabaya, tapi apadaya kalau tubuh sudah tidak bernyawa lagi. Haha yang
ceria dong Coki!.”
Tertanda,
teman terbaikmu
Migi
Lebih sedihnya
lagi saat ia melihat foto-foto mereka berdua saat jalan-jalan. Hatinya yang
sedang kosong menjadi hancur lebur mendengar teman terbaiknya sudah tiada.
Esoknya, Migi dimakamkan di Surabaya. Coki dengan berderai air mata terus
berdoa agar diberi tempat di sisiNya. Mungkin kata ”Surabaya, aku takkan
meninggalkanmu” itu ada benarnya. “Migi, aku takkan melupakanmu”
Komentar
Posting Komentar
Tolong berkata yang sopan, tidak menyinggung maupun mendiskriminasi. Dan jika melanggar, tau sendiri akibatnya!