DÉJÀ VU Dream(s) | Alwinata Blog






Sebenarnya aku tidak mau menyebutkan namaku, sebut saja aku Tyo. Aku bersekolah di SMA ternama dikotaku. Aku pernah mengalami prasangka mengenai hal yang baik, seperti bertemu seseorang yang berwatak baik, supel dan lain lain. Sebenarnya, banyak déjà vu yang baik selalu menghampiriku, sehingga aku lupa akan rasa takut terhadap prasangka buruk. Sekalinya ia datang, aku langsung ketakutan.

Hari itu, seingatku pada Malam Jum’at, tanggal 23 Mei 2016. Aku berjalan menyusuri lorong gelap di sisi sekolah. Aku merasakan firasat aneh tentang lorong ini. Namun aku belum memastikan apakah firasat itu baik atau buruk. Dengan ragu-ragu, aku tetap menyusuri lorong-lorong itu.

Belum apa apa, sudah ada yang menepuk pundakku. Aku kaget dan langsung menoleh ke belakang. Dan uhh…. Ternyata itu hanya temanku. Hampir saja aku mati ketakutan dibuatnya. Tapi entah kenapa, temanku dari tadi hanya diam membisu. Dan seketika aku mengingat secercah mimpi yang mirip dengan kenyataan ini. 

Dalam mimpiku itu, aku melihat temanku dari kejauhan. Aku menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Namun, ia hanya diam membisu. Sampai aku sadar bahwa ia sedang menggenggam sebilah pisau di tangannya. Spontan, aku langsung bunuh diri. Entah kenapa tanganku mencoba mencekik diriku sendiri. Aku mencoba melawannya, namun apadaya nafasku yang terengah-engah membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa. 

Selang beberapa detik setelah aku mengingat mimpi itu, aku tidak melihatnya lagi. Aku panik dan menoleh kesana-kemari karena aku sadar aku belum melihat apakah ia membawa sebilah pisau di tangannya. Ternyata ia kembali menepuk pundakku, spontan aku langsung menoleh kebelakang dan aku langsung melihat ke arah tangannya. Untunglah ia tidak membawa pisau, namun ia tetap membisu ketika aku ajak bicara. 

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini??” tanyaku.
“………….”
“Ada apa denganmu?? Apakah kau sedang flu atau batuk??”
“…………..”
“Apa??”
“…….. “
“Haloo??”
“…..”

Aku mulai bergerak menjauh dari temanku yang aneh tersebut.  Saat aku bergerak menjauh, ia mulai berjalan mendekatiku. Tapi anehnya, aku tidak mendengar suara tapakan kaki temanku itu. Aku mulai berlari, namun temanku juga mulai melaju dengan kencang. Dan ernyata aku sadar, itu bukanlah temanku. Itu merupakan pengunggu lorong seram tersebut. Dan seketika aku teringat mimpi lainnya.
Dalam mimpi, aku terbangun di ruangan serba putih, dengan hanya Nampak satu titik dari kejauhan. Aku berlari mengejar titik itu sampai aku mulai lelah. Namun ternyata, itu bukanlah titik, namun ada sebuah alat kejut listrik yang tergeletak. Aku bertanya-tanya apa gunanya alat kejut listrik di tempat semacam ini. Tiba-tiba ada seseorang berbadan kekar yang menghampiriku dan mengatakan “Belum saatnya”. Aku bingung dan tidak mengerti maksud perkataan itu. Belum sempat aku bertanya, orang tersebut menghilang.

Karena aku berusaha keras mengingat mimpi itu, aku lengah. Aku pun terpelosok ke sebuah ruangan karena tak sengaja menginjak kayu yang telah rapuh. Aku ketakutan dan meringkup di pojok ruangan berharap agar ia tidak mengejarku lagi. Terdengar suara tapak kaki yang semakin keras mendekatiku. Lalu, ku disilaukan oleh semacam sinar. Dan ternyata itu adalah seorang satpam yang heran melihatku ada di Ruang Gudang. Aku pun dibantu naik dan kuceritakan semua pengalamanku tadi kepada si Satpam. Sontak, Satpam itu pun tertawa, dan menanyakan padaku “Hahaha mana mungkin ada hantu macam itu, mungkin kau belum saatnya untuk berjalan sendirian disini. Lagipula, pisau yang kau ceritakan tadi sama seperti pisauku, ada apa dengan pisau ini?”. Aku terdiam beberapa saat, dan serasa ada yang menghantamku dari belakang.

Aku terbangun dari tidurku. Itu semua hanyalah sebuah mimpi. Mungkin aku terlalu lelah memikirkan beban sekolah. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Aku masih terbayang-bayang tentang “mimpi” didalam mimpiku itu. Sampai tidak sadar, aku berjalan melewati lorong seram sekolah. Ohh tidak, jangan bilang ini akan terjadi…

nb. All images copyright due to  owner

Komentar

Postingan Populer