The Pianist and His Little Finger (Short Story) | Alwinata Blog

Pada suatu hari, di suatu kota hiduplah seorang pianis handal. Dia merupakan pianis yang sangat mahsyur dan kaya. Apapun yang diinginkannya bisa dengan mudah didapatkan. Dan dalam kota yang sama juga hidup seorang psikolog. Dia terkenal dapat mengatasi masalah-masalah kliennya.

Di suatu pagi, ada seorang tukang kayu datang ke psikolog tersebut. Dia bercerita bahwa ia telah ditinggalkan oleh istrinya. Lama sekali pembicaraan itu, sampai akhirnya si psikolog dapat menentukan langkah yang tepat untuk tukang kayu tersebut. Si tukang kayu diminta untuk mendengarkan music dari si pianis secara terus menerus. Dan akhirnya ia menurutinya.

Si tukang kayu akhirnya mendatangi rumah si pianis. Ia lalu menceritakan saran dari psikolog tadi. Dan akhirnya, si pianis bersedia memainkan alunan musiknya untuk didengarkan. Tidak sampai 15 menit, si tukang kayu berkata “ Cukup, aku merasa lebih baik sekarang. Terima kasih, kau telah membuatku melupakan semua masalahku”

Semakin hari si psikolog semakin heran karena semakin banyak yang datang mengutarakan masalahnya. Begitupun juga si pianis, ia heran karena banyak sekali orang yang datang hanya sekedar untuk mendengarkan permainan pianonya. Karena itu, akhirnya si pianis menggelar konser selama 1 minggu sekali dan tidak dipungut biaya.

Setelah beberapa tahun berlalu akhirnya sudah tidak banyak orang lagi yang menonton konsernya itu. Semua orangnya merasa terobati karena musiknya itu. Dan akhirnya si pianis dapat menikmati hidupnya.


Namun pada suatu hari datanglah seseorang yang menemui psikolog. Orang itu kemudian menceritakan segala keluh kesahnya. Dia merasa tak berarti lagi. Seakan-akan ia ingin agar malaikat maut tepat ada di sampingnya. Si psikolog sampai heran tentang cerita orang tersebut. Ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa orang itu menghadapi cobaan hidup yang seberat itu. Kemudian si psikolog menyarankan orang itu untuk mendengarkan alunan music si pianis. Namun ada 6 kata yang membuat si psikolog heran bukan kepalang. Orang itu bilang “Tapi sayangnya, akulah si pianis itu”.

Lesson : Jangan pernah mengeluh seberat apapun cobaanmu itu, berbuatlah kebaikan kepada setiap orang dengan tanpa pamrih

"Nothing can change destiny, but you can change fate"

Komentar

Postingan Populer